Presiden Dilecehkan Kepala Daerah Tingkat II
JAKARTA (MI) : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono marah kepada Bupati, Walikota, dan Ketua DPRD Tingkat II, peserta Forum Konsolidasi Pimpinan Daerah Bupati, Walikota, dan Ketua DPRD Kabupaten/Kota Angkatan II Tahun 2008, yang diselenggarakan oleh Lembaga Ketahanan Nasional.
Kemarahan itu dipicu oleh adanya salah satu peserta yang ketahuan tidur ketika presiden sedang memberikan pembekalan kepada peserta Forum Konsolidasi Pimpinan Daerah Bupati, Walikota, dan Ketua DPRD Kabupaten/Kota Angkatan II Tahun 2008 di Gedung Lemhannas Jakarta, kemarin. Presiden memberikan pengarahan kepada 86 peserta forum konsolidasi angkatan II yang mengikuti program selama lima minggu sejak 4 Maret 2008 hingga 9 April 2008. Hadir dalam pembekalan itu juga 53 peserta forum konsolidasi angkatan I. Selain itu, hadir juga para menteri anggota kabinet Indonesia Bersatu. Sebelum kemarahan presiden keluar, presiden sedang menjelaskan paparannya mengenai sidang paripurna kabinet yang dipimpinnya Senin (7/4).
Presiden juga mengulangi hal yang sama kepada peserta forum konsolidasi, presiden juga meminta para kepala daerah tingkat II untuk mengubah krisis menjadi peluang. “Mestinya muncul dalam tekad kita, Indonesia bisa swasembada pangan. Daerah harus punya tekad untuk menambah produksi dan produktivitas dengan program intensifikasi. Bangsa kita juga masih boros energi. Padahal bangsa ini semakin bermasalah dalam penyediaan energi,” kata presiden. Tapi, sekonyong-konyong, presiden marah karena melihat peserta yang tidur. Presiden pun meminta agar peserta di sebelah orang yang tidur itu untuk membangunkan. “Kalau tidur diluar saja. Bagaimana bisa memimpin rakyat kalau di ruangan ini tidur. Malu pada rakyat, dipilih rakyat malah tidur. Jangan main-main dengan tanggungjawab. Berdosa, bersalah pada rakyat. kepemimpinan berangkat dari diri kita,” kata presiden sambil menggebrak podium tempatnya berpidato.
Presiden pun meminta Lemhannas tidak meluluskan peserta yang tidur itu. Menurutnya, Lemhannas sebagai lembaga harus bisa meluruskan kepribadian yang jelek. Walaupun seseorang itu pintar, tapi bila kepribadiannya jelek maka tetap menjadi racun bagi masyarakat. “Jangan diluluskan. Biar rakyat tahu, dia tidak lulus bukan karena tidak pandai tapi karena kepribadiannya jelek,” cetus presiden. Setelah presiden meninggalkan gedung Lemhannas, Gubernur Lemhannas Muladi mengakui ada peserta yang tidur. “Iya. Gak bener itu,” cetus Muladi. Tapi, tambahnya, presiden pun marah hanya sepintas dan tidak berlanjut. Sehingga tidak perlu ada peserta yang mendapat cap tidak lulus. “Manusiawilah. orang ngantuk, mungkin sakit. Mungkin keluyuran tadi malam. Tapi itu memang tidak boleh. Sudah diperingatkan tidak boleh tidur, sms (pesan singkat). Namanya kecelakaan,” ujar Muladi.
Dia mengakui, kalau tidur ketika mendengarkan presiden pidato adalah sebuah pelecehan. Tapi, hal itu tidak sekali ini terjadi. Ketika Wapres Jusuf Kalla memberikan pembekalan pun ada yang tertidur. “Tapi, teguran itu cukup keras. Seorang presiden menegur di depan umum itu sudah merupakan sanksi sosial yang luar biasa. Nanti kita panggil secara khusus,” ungkap Muladi. Dia menjelaskan, acara pembekalan yang dilakukan cukup padat jadwalnya. “Tiap hari dari pagi sampai sore,” tegas Muladi.
sungguh terlalu gg bsa ngehrgain PRESIDEN banged..kalu cape mending gg usah ikut rappat ajja..pecat ajja deeh..bubarin aja DPR (kta tmn gw)..klu ngantuk cuci mukka aja (kt bu guru sosiologi)
hhii..
jgn mrh iia
=)
apa DPR gnti ajah sma babeh akk ! .
berpengalaman, baik, gg doyan tidur ! .
poko nha aneh dpr indo magg
maap iiah
aw kok sby ngamuk ya padahal kan dia adalah presiden kebanggan kita bersama ……napa ya???
wew sby ngamuk gemana neh